Dari anak presiden
ke teater

Image & words by : Framed

Banyak yang harus dilakukan namun waktu yang tersedia sangatlah sedikit. Melihat jadwal kegiatan Inayah Wulandari Wahid sama seperti sekilas dari kesibukan mendiang ayahnya, presiden keempat Indonesia. Terlahir sebagai anak bungsu dari K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nay, begitu dia biasa dipanggil, membagi waktu dan kehidupannya dengan dunia seni teater, bepergian dan bakti sosial. Meskipiun dia mengaku bahwa dia bukannya yang pertama dari beberapa anak presiden lainnya yang memilih terjun di dunia seni daripada dunia politik.

 

Nay sangat suka bepergian, sesuatu yang mendarah daging di keluarganya. Tapi bukan Nay sepertinya jika bepergian tanpa misi. Jadi, storyteller yang luar biasa ini mempromosikan bepergian yang bertanggung jawab, sesuatu yang dia gambarkan seperti melihat destinasi kita sebagai subjek bukan objek. Dia juga seorang agen atau perwakilan dari Positive Movement, yang mempromosikan perdamain ditengah-tengah perubahan yang konstan.

 

Pada akhirnya, perbincangan mengarah kepada mendiang ayahnya, yang sering sekali dia bicarakan. Nay bertekad untuk melanjutkan mimpi mendiang ayahnya melalui jaringan keluarga bernama Gusdurian. Bagi Nay, Gus Dur berperan lebih dari figur seorang Ayah, tetapi  yang mengenalkan dia kepada dunia kebudayaab, sejarah, bahasa, dan seni. Menurut Nay, menjadi putri Gus Dur berarti dia dididik untuk melihat dunia lebih luas dan itu membuka matanya.

Apa schedule Anda saat ini?

Sebenarnya agak sulit untuk dijawab ya. [tertawa]. Saya sedang melakukan proses shooting sebuah sitcom di salah satu stasiun TV. Tapi saya masih mengambil bagian di dalam teater dan Wayang Orang, sama aktifnya seperti saya terlibat dalam gerakan yang saya ciptakan yaitu Positive Movement. Saya juga mendirikan Travelogi Indonesia untuk mempromosikan dan menggalakkan responsible travelling. Dan saya juga aktif di dalam Gusdurian Network.

 

Okay, mari membicarakannya satu per satu. Apap yang membuat Anda jatuh cinta dengan dunia Teater?

Saya tidak tahu pasti. Tapi saya selalu merasa bahwa saya suka berlakon dan berperan diatas panggung. Saya pernah mencoba absen dari dunia pementasan dan itu sangat membuat saya stress. Jadi saya kembali lagi ke dunia teater. Saya sangat menyukai semua aspek dari dunia peran ini.

inayah2

Jadi, apa mimpi Anda saat kecil?

Sejujurnya mimpi saya selalu berubah. Saya pernah bermimpi ingin menjadi astronot, tapi sekarang sepertinya sulit untuk direalisasikan [tertawa]. Seiring saya bertumbuh dewasa, saya mulai menyadari bahwa dunia acting dan pentas adalah hasrat saya. Tapi kalau saya harus menyebutkan satu mimpi spesifik, saya tidak yakin kalau saya punya satu mimpi yang spesifik. Saya hanya tahu bahwa saya menyukai dan mencintai acting.

 

Sekarang Anda berpindah ke sitcom, jenis acting yang berbeda. Bagaimana awal mulanya?

Orang-orang dari sitcom tersebut melihat saya acting di atas panggung, dan mereka minta saya untuk gabung. Tapi seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya masih sibuk dengan Positive Movement, Gusdurian, dan beberapa aktivitas lainnya, jadi saya tidak menjadikan actin sebagai pekerjaan tetap saya. Saya punya hal lain yang harus saya capai. Jadi saya bilang ke mereka kalau saya tidak bisa melakukannya setiap hari. Sepertinya itu tidak jadi masalah buat mereka. Saya bergabung dengan senang hati tentunya karena saya mau mempelajari hal-hal baru. Teater, Wayang  dan film pendek yang pernah saya geluti jauh berbeda dari dunia TV.

 

Kami jarang melihat anak presiden memilih seni sebagai pekerjaan utamanya. Apakah seni menjadi sesuatu yang diwariskan dari keluarga Anda?

Sebenarnya saya bukan yang pertama masuk ke dalam dunia seni, kita semua kenal Guruh Soekarno Putra. Tapi seni bukan sesuatu yang asing di dalam keluarga saya, kita semua juga tahu bahwa Ayah itu ketua dari Jakarta Arts Council dan juri dalam Piala Citra. Ayah mencintai seni, Wayang sebagai contoh. Bahkan dia mengajarkan banyak pelajaran hidup melalui cerita-cerita Wayang.

inayah1

“He is my hero, my real hero.” – Inayah Wahid

Tumbuh berkembang bersama seni, seperti apa masa kecil Anda?
Tidak berbeda dengan anak-anak lainnya, sepertinya. Saya sangat aktif sebagai anak-anak. Saya yang biasanya marah kalau ada yang lupa mematikan lampu atau merokok. Saya banyak membaca buku tentang nilai-nilai, jadi saya seperti itu ketika saya kecil dulu.

 

Seperti apa rasanya menjadi putri seorang Gus Dur?
Ayah saya adalah orang paling keren sedunia [tertawa]. Tapi saya bilang begitu bukan hanya semata karena saya putrinya, tapi juga kalau Anda lihat seberapa besar perjuangannya dan nilai-nilai yang dia bagikan, sepertinya mustahil sepertinya untuk tidak menghormati beliau dan apa yang telah beliau lakukan untuk manusia dan kemanusaiaan. Dia adalah pahlawan saya. Dan salah satu hal terbaik menjadi putri Gus Dur adalah kita bebas untuk memilih apa yang kita sukai. Gus Dur tidak pernah menyuruh anaknya untuk melakukan ini dan itu, tapi dia lebih kepada memberi contoh dan kita mengikuti jejaknya. Apa yang kami lakukan di Gusdurian saat ini, sebagai contoh, adalah hasil dari kesadaran kami sendiri bahwa apa yang diperjuangkan ayah saya masih sangat jauh dari garis akhirnya. Kami ingin melanjutkan kerja keras beliau. Kita pernah bilang bahwa Gus Dur hanya orang biasa, tapi dia itu seperti seribu orang yang melakuykan beribu-ribu hal yang luar biasa. Jadi kalau sekarang kita tidak bisa menemukan satu orang seperti Gus Dur, maka ayo kita temukan seribu untuk memenuhi kekosongan itu. Itu yang sedang kami lakukan sekarang.

 

Berarti Anda harus “membagi” Ayah Anda dengan seluruh Negeri.
Saya merasa tidak punya seorang Ayah, sejujurnya. Saya tidak tahu Ayah saya seperti apa. Pernah saya ada di sebuah fase ketika saya berharap Ayah saya adalah seorang arsitek atau seorang dokter gigi dengan jam kerja yang normal. Dulu, waktu otang bertanya apa pekerjaan Ayah saya, saya cuma jawab saya tidak tahu [tertawa] Tapi lalu Ayah saya menjelaskan apa yang sedang ia kerjakan di satu sisi dia meminta maaf kepada anak-anaknya. Dia bilang, dia minta maaf kalau karena tidak bisa menempatkan keluarga sebagai prioritas di dalam hidupnya karena masih ada hal lain yang harus dia perhatikan terlebih dahulu, seperti Tuhan dan Negara ini. Itu adalah titik balik bagi saya dimana saya memilih untuk melepas dan berkata bahwa tidak masalah untuk tidak menjadi prioritasnya. Saya sangat kagum dan mengidolakan beliau lebih lagi saat itu.

inayah3

Lanjut ke travelling, kita sangat penasaran tentang bepergian yang bertanggung jawab. Bisa Anda jelaskan lebih dalam lagi?

Kami menyebutnya Travelogi Indonesia. Hari ini, bepergian itu sudah menjadi kebutuhan. Sayangnya, hal tersebut memberi dampak buruk bagi beberapa tempat. Jadi kami mengadaptasikan sebuah gerakan yang kami namai bepergian yang bertanggung jawab. Artinya kita melihat destinasi kita sebagai subjek bukan objek, dan kita seperti orang yang bertamu ke rumah orang lain. Fokus dari perjalanan ini adalah orang-orangnya, kita bergabung bersama-sama dan kita tidak meninggalkan kerusakan ketika kita pergi dari tempat itu.

 

Selain Indonesia, dimanaka anda ingin berada?

Sulit untuk dijawab karena menurut saya Indonesia adalah tempat terbaik di dunia. Saya juga ingin ke New Zealand. Selain karena alamnya yang luar biasa indah, saya rasa kalau ada sebuah Negara yang punya populasi domba lebih banyak dari manusia, maka tempat itu bisa dijamin sangat damai.

MILESTONE

Born in Jakarta 31 December 1982

2000 – 2005

Bachelor of Indonesian Literature, Faculty of Humanities, University of Indonesia

2000 - present

Member of Ikatan Keluarga Sastra Indonesia (IKSI)

2002 - 2003

Head of Pagupon Theatrical Club, Universitas Indonesia

2004 - 2005

Founders of Positive Movement

2005 - 2010

Chairperson of Positive Movement

2007

Participant Youth Discussion Forum, Ministry of Foreign Affairs Indonesia, ASEAN Cooperation General Directory, Jakarta, Indonesia

2007

Head Committee Peaceful Ramadhan Indonesia-Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia. “Spreading the Love Through Ramadhan Spirit”

2007

Head Committee BRIDGE of YOUTH (BoY) 2007, Bali, Indonesia. ASEAN in Our Hands: “In Diversity We Unite”.

2007

Steering Committee Camp Pemuda Nusantara (CPN) 2007, West Java, Indonesia. “Damai Dalam Perbedaan”

2009

Leadership Program Asiaworks, Jakarta, Indonesia August 2008 Self Development, Oneness University, Chennai, India
chair